


Tidak dapat dipungkiri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan pengusaha rintis di tengah masyarakat Indonesia pada saat pandemi rentan untuk terdampak secara ekonomi dan membutuhkan inovasi baru, seperti digital marketing.
Pemulihan ekonomi nasional kemudian dipilih menjadi tema besar program dari Sosial Project yang dilaksanakan oleh Komunitas Penerima Beasiswa LPDP RI Angkatan 168, Nala Bumintara. Program ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni di Kota Makassar dan Kabupaten Bantul, dengan target sasaran komunitas masyarakat pemulung dan pengolah sampah di Kelurahan Rappokalling, Makassar dan masyarakat pembatik di Kampung Batik Giriloyo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.
Sebagai gebrakan awal dari rangkaian program di kedua tempat tersebut, diadakanlah sesi webinar mengenai prospektus digital marketing sebagai upaya menggugah dan menguatkan motivasi peserta untuk mengoptimalkan model pemasaran online, khususnya bagi UMKM.
Usaha masyarakat yang cukup rentan di saat pandemi ini memunculkan ide untuk memanfaatkan teknologi dan inovasi di sekitar, seperti digital marketing. Strategi digital marketing tentunya memiliki potensi dan membawa peran penting aktual di era digital ini guna meningkatkan pemasaran usaha yang mungkin terdampak di kala pandemi ini.
Oleh karena itu, komunitas Penerima Beasiswa LPDP RI Angkatan 168 mengadakan webinar dengan tema “Digital Marketing sebagai Upaya Pemulihan Ekonomi di Kala Pandemi” pada hari ini tanggal 30 Januari 2021sebagai awal pembuka dari diadakannya serangkaian program di lapangan.
Dihadiri 172 peserta yang memiliki berbagai macam latar belakang dan berasal dari berbagai lokasi di seluruh dunia, sesi paparan materi dari masing - masing narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif yang dipandu oleh moderator, Patrick Samoel Roeroe.
Berlatar belakang sebagai narasumber yang memang berfokus kepada produk sampah yang didaur ulang, Musawwir Muhtar selaku COO dari Octopus Indonesia menyatakan, Di Octopus kami mencoba untuk meredefinisi value yang ada mengenai sampah dan peran pemulung melalui digital marketing.
‘Pemulung zaman now’ adalah konsep yang kami tekankan untuk menempatkan pemulung sebagai pelestari. Apabila dulu pemulung mengais sampah di TPA sekarang mereka bisa santai - santai di rumah sambil menunggu order pick up sampah.”
Memulai proses tersebut memang tidak mudah. Awi, sapaan akrab Musawwir, mengatakan transformasi mindset dari ketidakpedulian dengan sampah menjadi kebanggan bagi pemulung yang menjadi mitra membutuhkan waktu. Adanya dampak ekonomi yang diraih oleh para mitra dan semua orang yang terlibat memudahkan proses edukasi lingkungan di masyarakat.
“Rata-rata pendapatan mitra 4 juta rupiah, bahkan ada juga yang sebulan mencapai 10 juta rupiah,” kata Awi.
Stimulus ini kemudian bisa memungkiinkan pegawai honorer, wiraswasta, mahasiswa, dan elemen masyarakat lainnya untuk membawa atau mengepul sampah plastik. “Sekarang sampah plastik bukan barang yang hina,” ujarnya.
Pembicara utama kedua, Miftahudin Nur Ihsan, pengusaha batik di CV. Smart Batik Indonesia pun menyebutkan bahwa para pebisnis UMKM mesti melakukan transformasi dan inovasi agar mampu bertahan era pandemi. Batik produk Ihsan juga memiliki tantangan tersendiri lantaran banyak orang yang bekerja dari rumah sehingga fashion bukanlah kebutuhan utama saat ini. Namun, berbagai strategi ia jalankan agar dapat bertahan di masa pagebluk seperti menjalankan pemasaran di berbagai media online serta membuat motif-motif batik baru. "Pengrajin kami membuat seperti motif virus, motif kimia hingga corak uang untuk menyasar pangsa pasar baru," ujarnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pembeli produknya dengan menyebut mereka adalah para pahlawan bagi produk UMKM. "Ini merupakan pendekatan psikologis agar loyalitas customer terbangun,” tambahnya. Pelaku usaha, terlepas dari sektornya yang beragam, mulai dihadapkan pada fakta signifikan yang menunjukkan pentingnya adopsi digital marketing utamanya pada saat pandemi Covid-19.
Di era digital ini, sarana informasi tidak berbatas pada waktu dan kemungkinan untuk berkreasi menjadi lebih mudah. Keterbatasan ruang gerak di kala pandemi menghadirkan ide baru untuk berinovasi dan membaca pasar yang memiliki potensi.
Terlebih lagi, ide baru ini dapat diintegrasikan dengan strategi digital marketing yang memungkinkan cakupan pasar yang lebih luas di Indonesia dan bahkan di pasar global. Hal ini dikonfirmasi oleh narasumber ketiga, Amanah Rakhim Syahida, Dosen di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang sekaligus CEO Nirwana Wedding Organizer yang menambahkan.
Bagaimana menciptakan inovasi baru dengan memanfaatkan digital marketing di kala pandemi ini? Bisa dimulai dengan membangun product knowledge yang kemudian dijadikan konten menarik di media sosial bagi pasar yang dibidik sebagai salah satu strategi digital marketing.”
Pengembangan digital marketing memegang nilai penting dan mudah diaplikasikan dalam memecahkan permasalahan ekonomi masyarakat dan membuka potensi pasar terutama di saat pandemi. Capaian akhir yang diharapkan tentunya aktivitas usaha mereka yang dapat kembali hidup dan roda ekonomi masyarakat pun dapat berputar kembali.
